Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
ArtikelKesehatan

Ini Bedanya Konsumsi Nasi Orang Jepang Dengan Orang Indonesia

149
×

Ini Bedanya Konsumsi Nasi Orang Jepang Dengan Orang Indonesia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JEPANG – cntvnewd.id, Nasi merupakan makanan utama masyarakat Asia. Di Indonesia konsumsi nasi sekitar 94,9 kg per orang per tahun. Berada di posisi ketiga dunia setelah Tiongkok dan India.

Hampir semua orang Indonesia merasa belum makan jika belum menyantap nasi.

Example 300x600

Tak jarang, ada orang yang makan nasi dengan lauk mie instan. Padahal nasi dan mie sama-sama sumber karbohidrat.

Beda konsumsi nasi Indonesia dengan Jepang, secara tradisional masyarakat Jepang juga makan nasi. Namun konsumsi per kapita nasi di Negeri Sakura terus turun.

Di tahun 1962 ketika ekonomi Jepang sedang booming, angka konsumsi per kapita terhitung tinggi 118,3 kg. Tahun 2016 angka per kapita itu anjlok menjadi 54,4 kg per orang.

Bila satu mangkuk nasi beratnya kurang lebih 60 mg, ini berarti rata-rata orang Jepang makan 5,4 mangkuk nasi per hari pada 1962. Di tahun 2016 orang Jepang hanya rata-rata makan 2,5 mangkuk nasi.

Onigiri, Makanan Khas Jepang

Dalam sebuah survei pada tahun 2015 oleh Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan di jepang menemukan hampir separuh orang yang disurvei memilih tidak makan nasi di malam hari. Mereka menyebutkan ingin mencoba beragam makanan.

Kemudian di pagi hari masyarakat Jepang juga memilih makanan non nasi yang cepat dimakan dan tanpa perlu persiapan panjang
untuk memasak dan membersihkannya.

Selain nasi, masyarakat Jepang menikmati juga pasta dan roti. Pasta dan roti pun diolah dengan selera Jepang. Pasta gaya Jepang ini dimasak dengan bahan yang sehat  asal Jepang seperti sayuran, ikan dan jamur. Sedangkan roti yang disukai untuk sarapan adalah shokupan atau juga dikenal dengan nama Japanese milk bread loaf. Roti ini dikenal sangat lembut.

Sementara konsumsi per kapita nasi terus turun, konsumsi daging, susu, produk susu, minyak dan lemak terus naik. Di antara 1962-2016 terjadi peningkatan 2,7 kali lemak dan minyak menjadi 14,2 kg. Peningkatan konsumsi daging naik dari 7,6 kg di 1962 menjadi 31,6 kg di 2016. Konsumsi susu dan produk susu meningkat 3,2 kali lipat menjadi 91,3 kg per orang per tahun.

Konsumsi protein seperti daging dan susu ini  sejak masa kanak-kanak sejatinya penting untuk perkembangan kecerdasan. Sayangnya, di Indonesia konsumsi susu per kapita rendah bila dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Orang Indonesia hanya mengonsumsi susu 11,7 liter per tahun. Di Filipina konsumsi per kapita susu mencapai 22 liter sedangkan di Thailand mencapai 31 liter.

Untuk konsumsi daging di Indonesia , konsumsi per kapita ayam mencapai 7,8 kg per tahun.  Konsumsi daging sapi per tahun hanya 2,2 kg per tahun.

Terlalu banyak nasi dan tidak diimbangi dengan asupan protein, vitamin dan mineral, sudah pasti tidak baik bagi keseimbangan gizi. Sebagaimana diketahui, nasi mengandung indeks glikemik yang tinggi. Ini artinya, konsumsi nasi akan cepat meningkatkan kadar gula darah. Konsumsi nasi terlalu banyak dalam jangka panjang bisa jadi mendatangkan penyakit dengan komplikasi komplet seperti  diabetes mellitus.

Konsumsi nasi terlalu banyak juga menyebabkan berat badan berlebih. Itu sebabnya pula belakangan ini masyarakat yang peduli kesehatan mulai mengurangi konsumsi nasi. Sebagian bahkan mengganti nasi putih menjadi nasi merah yang kandungan indeks glikemiknya lebih rendah.

Di sisi lain bagi Jepang meninggalkan nasi sebagai makanan pokok bisa berarti meninggalkan tradisi. Washoku (makanan tradisional Jepang) selalu terdiri dari nasi, sup, sayur, ikan yang sehat dan lezat. Pilihan bahannya pun mengikuti perubahan musim.

Dengan konsep dan maknanya yang dalam, makanan tradisi ini masuk ke dalam daftar warisan budaya UNESCO pada 2013. Beralih dari nasi ke pasta atau roti di Jepang semoga tak serta merta melupakan washoku. (Has)

Sumber : hallo jepang

Example 300250
Example 120x600